Taifun, Typhoon, Topan

Hari ketiga saya berada di kampus ini, akhirnya saya bertemu dengan buddy saya (semacam ‘guide’ begitulah) yang akan membantu saya beradaptasi dengan kehidupan di korea selatan, khususnya di kampus ini, Namanya adalah Ganghwan Choi atau dalam nama inggris lucas.   saat awal bertemu ia langsung menanyakan berbagai hal kepada saya, salah satunya adalah, “Sudahkah kau mempersiapkan payung dan jas hujan?” | “nggg belum, kenapa” | “lihat berita ini, besok taifun akan melewati korea, jadi kau harus bersiap siap” | “oke ntar deh aku beli payung *nada ngeremehin taifunnya*” | “beneran lho, cuaca di korea ini sering hujan gitu, jadi kamu musti siap siap! atau ntar beli payung aja sama aku” | “okay”

Malamnya, ternyata Devi, mahasiswa exchange dari Indonesia yang sudah 6 bulan di sini bersedia membantu saya. “sini aku ajak ke toko yang murah, ngapain beli di dalem kampus, mahal mahal semua, idih sayang banget kalo beli di dalem” ujarnya saat welcoming party. akhirnya Saya, Nico dan Mimi (dari ITB), Oky (dari IPB) pun meluncur ke toko di sekitar kampus bersama buddy saya dan Devi. “harga harga di korea emang mahal, apalagi buah” ucap devi. Oh yeah, i can see that, gumamku sambil melihat berbagai price tag yang unbelievable dibandingkan dg harga di Indonesia. salah satu barang utama yang dibeli adalah : PAYUNG!

setelah berkutat dengan pilihan payung yang cukup banyak, akhirnya kami (saya, nico, dan mimi) memutuskan untuk membeli payung yang memang kuat, mantap dan berharga cukup mahal (sekitar 4500 won). Kalau saya bayangkan, payung seperti itu di Indonesia akan bertahan untuk waktu yang sangat lama, bertahun tahun gitulah.

(but i did not foresee what’s coming to us..)

*jeglerrrr*

*efek suara film horor*

***

Pagi hari waktu korea, sekitar pukul 4.30 akupun terbangun seperti biasa, untuk melakukan sholat subuh. namun pagi itu saya bangun lebih awal, karena suara angin yang kencang ternyata benar benar membuat suara gemuruh yang luar biasa. Melihat ke luar jendela, akhirnya saya menyadari bahwa taifun ini benar benar serius, tidak seperti hujan angin di indonesia yang bagi saya sudah merupakan “extraordinary”, well I was wrong, THIS is Extraordinary.

seusai melakukan sholat subuh, dan matahari mulai menampakkan dirinya, saya mencoba keluar dari kamar, mengintip keadaan dari kaca koridor dormitory, satu hal yang mencengangkan saya “hmmm tong sampah gede itu kayanya kemarin gak hadap ke situ deh, trus masih berdiri tegak! luar biasa anginnya!” gumamku. akhirnya sayapun tertarik mengabadikan kejadian ini dan mulai mengeluarkan kamera, merekam, memotret beberapa hal menarik.

Pagi itu saya janjian dengan nico dan mimi untuk sarapan bersama. untuk menuju tempat makan dormitory, saya harus keluar gedung dan turun ke basement yang terletak di antara gedung dormitory. sayangnya, tidak ada akses indoor ke sana, jadi cara untuk menuju basement itu adalah dengan keluar ruangan. keluar ruangan? berarti menghadapi taifun ini? ah, coba sajalah, daripada kelaparan!. akhirnya saya beranikan diri untuk keluar ruangan, mempersiapkan payung yang baru saja dibeli. Okay, this is it.

keluar dari gedung, angin kencang sudah menyambut, payung yang kuat itupun bergoyang goyang seakan mau putus. hm, belum putus! namun seseampaiku di tempat bertemu, ternyata nico dan mimi belum sampai. well, magically, I am being punctual now!

ganti bahasa boleh ga?

ganti ya

okay, the next thing that happen is nico showed up! but when he met me, he was in “a-bit-grumpy-but-whatever” face. I asked him, “hey, what’s up ? gosh this taifun is just crazy, i’ve never had this kinda thing. thankfully this umbrella is very strong!” | “strong? look at mine, it is already broken” | “What?”

***

After having breakfast, I rushed to the class, because I am having a research class in 9.00 am whereas, it is 8.40 when i finished eating. the class that I am heading to is a bit far, about 500 meter i guess, and with this weather, i’m afraid, I can’t make it on time. so i ran out of the cafeteria to the class. Along the road, the rain was not bad, it was the wind that blows strongly everywhere, it feels like it blows from everywhere, and then “the series of unfortunate umbrella” happens. the metals of the umbrella starts to get cracked, and bends, oh gosh, it was new! but thankfully that umbrella could make it along the way to the class.

arrived at the class, the class was empty, and it was still locked. so I waited downstairs, waiting for anyone that goes upstaris. II am afraid if the class got canceled, but I didn’t get the notice. but thankfully the fourth time i checked the class, the professor was on the way to the class. Finally, I am having class today!

the class was nice, the class was held inside a room named “media center”. there are computers that the student can use to study (unfortunately, the windows is in hangul –” ) it is a bit confusing to navigate the pc for me.

about 70 minutes later, the class ends, and thten i went back to my dorm, but then again, it seems that “the series of unfortunate umbrella” is not over yet, that “rigid-already-umbrella” and me, was strucked by a very strong wind and voila! like magic my umbrella disassembles itself, and so it goes…. R.I.P my umbrella. i looked around and, well at least it’s not just me that are having “the series of unfortunate umbrella” . along the road, i saw many, no, not many, LOTS of broken umbrella and abandoned along the road, it was crazy !

if you are curious to see what it’s like, then just watch these videos that i’ve recorded

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s