Cuap Cuap, Travel

“Apa Tujuan Anda Berwisata?”

“Wah, Mas Ganes gemar berwisata ya? ke mana saja?”

Karena saat ini masih hobinya berwisata mancanegara, maka segelintir nama negara kemudian terluncur dari bibir ini, mewarnai sesi wawancara Psikologi siang itu.

“Okay… Sebenarnya apakah goals atau tujuan Anda berwisata?”

“ng…… ya….”

Untuk beberapa saat Saya terdiam, berfikir…

“Bagaimana?” tanya Ibu Psikolog itu penasaran.

Sedikit panik, akhirnya berbagai jawaban indah nan mulia kembali menghiasi hingga sesi wawancara berakhir, yang mana saya yakin cukup baik saya lalui (yang mana kemudian berhasil meloloskan saya hingga tahap tes kesehatan untuk sebuah posisi di salah satu perusahaan energi terbarukan terbesar di Indonesia).

Bagi beberapa orang mungkin dapat terlepas saja dari sebuah stopping moment seperti itu. Tapi bagi saya yang cukup tergambar dari komik berikut,

IMG_1351
Komik yang menggambarkan kondisi saya :)) (sumber: Grant Snider)

Alhasil, pertanyaan itu terus menerus terngiang-ngiang di benak saya dan terus kucoba untuk menjawabnya. Pada akhirnya, pertanyaan itu akan saya coba jawab dalam beberapa poin:

1. Untuk belajar, mengenal tempat baru, mencari excitement, mencari pengalaman baru

11881735_850913638296162_546088435_n
Seperti, tidak hanya mengunjungi landmark untuk berfoto, tetapi juga mengenal lebih dalam kisah di balik landmark tersebut.

Adalah kunjungan saya ke Korea Selatan bulan lalu yang membuat saya menyadari bahwa mengunjungi tempat baru dan revisiting a place akan menjadi berbeda. Excitement dan tujuan yang dibawa pada perjalanan keduanya akan berbeda. Saya rasakan bahwa memang saya excited pada akhirnya dapat kembali mengunjungi Korea Selatan setelah sekian tahun berlalu. Namun tidak dapat saya tampik bahwa saat roda pesawat menyetuh runway Bandara Internasional Incheon dan lagu “Tanah Airku” mengalun pada kabin pesawat kebanggaan, Garuda Indonesia pagi itu, kali pertama saya mengunjungi Korea Selatan, perasaan yang saya rasakan sangat berbeda.

Not knowing what to expect, and about to encounter the unknown mungkin menjadi hasrat yang unik, yang kemudian menjadi landasan untuk lebih bersemangat menjelajahi tempat itu, dan yang terpenting, Lived to tell the stories. Masih teringat bagaimana solo trip saya ke Hong Kong tahun 2016 lalu berhasil menjadi momen pencarian jati diri *tsahhh* (akan saya tulis cerita tentang ini juga nantinya!).

Selanjutnya, inilah cara saya belajar, membaca, lebih mengenal secara langsung budaya, tempat, dan orang yang asing dari tempat asal. Memang, tidak perlu jauh jauh ke lokasinya, internet berhasil memenuhi kehausan akan informasi dan pengetahuan tersebut. Tetapi, menurut saya, first hand experience adalah komponen penting dalam memahami berbagai budaya tersebut.

2. Taking a break from daily routine

11358102_647711952028846_1560779092_n
Rutinitas biasanya sarapan telor ceplok dengan pemandangan ponsel, kali ini sarapan roti, muffin, dan jus dengan pemandangan city that never sleeps.

Berkaitan dengan penjelasan saya tentang excitement pada poin pertama, dalam konteks ini excitement dapat dikaitkan dengan kepekaan.

Mengapa poin ini saya tuliskan sebagai Taking a break from daily routine instead of Escape from daily routine? (well, memang sih penggunaan istilah “Escape from daily routine” lebih menjual wkwkw) Tetapi, personally, saya kurang setuju dengan kata “Escape” sebagai wording yang digunakan saat berwisata. Seolah-olah rutinitas yang dilakukan menjadi sebuah beban dan penjara diri (walau mungkin bagi beberapa orang memang demikian adanya), but words are some of the things that makes you, you (quote apaan ini wkwk), therefore, put nice words for what you are doing!

Kembali pada kepekaan dan rutinitas, salah satu poin menarik yang saya jumpai pada diri saya setiap kali mengunjungi tempat baru dan budaya baru adalah jumlah foto yang saya ambil menjadi meningkat secara signifikan. Demikian halnya dalam menjumpai hal-hal unik, nyeleneh, typo, mistranslation, dan berbagai aspek unik lainnya.

I’ll have to admit that daily routine does reduces our sensitivity towards our surroundings

“ah, udah biasa itu”

Kalimat tersebut menjadi jargon yang melanggengkan menurunnya sensitivitas akibat rutinitas. Travelling is my remedy towards this. Rutinitas perlu ada untuk mempermudah kehidupan (pada beberapa titik dalam hidup) namun cara diri memandang rutinitas dan komponen dalam rutinitas itulah yang perlu di revamp. Ilmu baru yang didapat dari saat travelling, hal unik baru yang dijumpai saat travelling, sudut pandang baru yang didapat dari percakapan bersama orang baru saat travelling, menjadi framework baru yang dapat diterapkan dalam rutinitas, yang kemudian diharapkan dapat menjadikan diri lebih baik dalam menghadapi dan memandang rutinitas.

3. Menyalurkan hasrat berfoto, menambah Instagram feed

17881448_403205790064652_1185222403156869120_n
Dalam kata lain, rada congkak dikit lah di Instagram Feed :p kapan lagi bisa posting foto cherry blossom gini wkwk.

Seriously, karena kemampuan berfoto saya yang masih sangat dasar dan kepekaan atas obyek foto yang baru tumbuh ketika menjumpai hal dan tempat baru, maka travelling menjadi momen untuk lebih mengasah kemampuan fotografi, menyalurkan kegemaran berfoto, dan yang terpenting menambah instagram feed :p

4. Karena ada rezeki

12081060_921389794622107_115696642_n
Nikmat mana yang kau dustakan, terbang ke Bali dari Surabaya PP hanya dengan Rp 260rb-an menggunakan mileage yang akan hangus, yang didapat dari penerbangan yang dibiayai :p

Poin keempat ini menjadi yang terpenting, yaitu karena ada rezeki 😀

Weitssss, jangan terpaku bahwa rezeki ini hanya berupa nominal uang yang banyak yapp, banyak sekali perupaan rezeki ini yang bisa diarahkan pada kegemaran berwisata.

  • Rezeki sehat, sehingga bisa berwisata dengan nyaman
  • Rezeki ada long weekend, memungkinkan cuti
  • Rezeki dapet tiket dan penginapan yang terjangkau
  • dan masih banyak rezeki lainnya yang dapat disyukuri 🙂

 

Yeah… itulah beberapa jawaban saya untuk Ibu pewawancara sesi Psikologi, walau masih banyak lagi yang bisa diulas untuk menjawab pertanyaan itu.

Bagaimana dengan pembaca sekalian?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s